Beranda Hukum & Kriminal Sidang Ke Sembilan PT. Crestec Hakim Sempat Ragukan Setatus Saksi

Sidang Ke Sembilan PT. Crestec Hakim Sempat Ragukan Setatus Saksi

0
BERBAGI

ZONABEKASI-Sidang kasus gugatan Perdata Nomor: 335/PDT.G/2018/PN. Bekasi yang dilakukan CV. Jagat Raya Trans (Cv.JRT) terhadap PT Crestec Indonesia (Pt
CI) memasuki persidangan kesembilan, di Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A, Jalan Raya Veteran, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Selasa,29/1/2019.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Dewa Putu Yusmai, SH MH, dengan didampingi Hakim Anggota Rehmalem Perangin-angin SH, Hakim Anggota Abdul Rofik dan Panitera Herry. Sidang kali ini menghadirkan saksi mantan Suvervisor Pt. Crestec Indonesia, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Edi Kurniawan yang didampingi dua pengacara Pt. Crestec dari Farida Law Office, Jakarta.

Sidang terbuka berlangsung di Ruang Chandra, PN Bekasi mulai pukul 13.20 WIB hingga selesai dengan dihadiri oleh penggugat dari CV Jagat Raya Trans, Mahfud beserta kuasa hukumnya, Suwardy Kalengkong, SH.

Dalam awal persidangan, Edi sempat diragukan kesaksiannya oleh Hakim Ketua Dewa Putu, terkait surat pengunduran dirinya dari Pt.Crestec Indonesia yang bertanggal 18 Januari 2019.

Kemudian, selanjutnya Hakim meminta saksi untuk berkata jujur perihal surat pengunduran dirinya dari perusahaan.

“Begini Mas, ini benar-benar ga, tidak ada sandiwara?,” tanya Hakim kepada saksi Edi.

Tak hanya keraguan soal keterangan resign, Hakim juga menanyakan kapan saksi menerima gaji terakhir dari perusahaan. Saksi juga terkesan memberikan keterangan berbelit-belit soal jabatan HRD di perusahaan, padahal menurut keterangan sebelumnya saksi hanya menjabat sebagai Suvervisor diperusahaan tersebut (Pt.Crestec).

Hakim kemudian memerintahkan saksi untuk dilakukannya sumpah dihadapan ‘Al Quran’.

Kuasa hukum Cv. Jagad Raya Trans Suwardy Kalengkongan SH sempat menyatakan keberatan dengan disumpahnya saksi dihadapan sidang, namun keberatan dicatat oleh sidang dan saksi kemudian disumpah ‘Al Quran’ atas kesaksiannya, diikuti (dengan catatan).

“Jika kau berbohong, kau ‘makan’ sumpah ‘pocong'”, ujar Hakim Dewa.

Saksi Edi kemudian memaparkan perihal perjanjian kontrak kerja antara Cv. Jagat Raya Trans yang diputus oleh Pt. Crestec Indonesia. Saksi beralasan karena kinerja dari Cv.Jagad Raya Trans tidak memuaskan perusahaan Pt. Crestec, Salah satunya soal kondisi kendaraan yang bocor hingga mengenai produk.

Selanjutnya, saksi mengatakan, adanya keterlambatan pengiriman yang dilakukan Cv.Jagad Raya Trans ke costumers.

“Kami sudah mengkomunikasikan kepada costumer soal keterlambatan pengiriman karena di ‘sandera’ oleh pemilik mobil,” katanya dihadapan sidang.

Lebih lanjut Saksi Edi memuturkan, akibat hal itu, ada penarikan sejumlah unit mobil ekspedisi yang dibawa oleh Cv. Jagat Raya Trans pada 26 Februari 2018 lalu. Penarikan armada tersebut tanpa sepengetahuan perusahaan.

“Saya dapat info dari kantor (manajemen), Pak Mahfud belum bayar sewa mobil,” kata saksi Edi.

Lalu saksi Edi juga mempertegas pertanyaan dari pengacara perusahaan soal berakhirnya perjanjian kontrak antara Cv. Jagat Raya Trans dengan Pt.Createc Indonesia yakni pada 31 Maret 2018.

Dikatakan Saksi, setelah kontrak berakhir, saksi Edi mengaku, langsung melakukan kontrak dengan Hipo Trans sejak 1 April 2018.

Sementara itu menurut keterangan saksi, mobil ekspedisi berjumlah 6 unit milik Cv. Jagat Raya Trans masih tersimpan di parkiran perusahaan (Pt.Crestec).

Saksi juga mengatakan, pada tanggal 2 April, manajemen Cv.Jagad Raya Trans menarik unit armadanya, dan pada tanggal 4 April 2018, Cv. Jagat Raya Trans mengirimkan surat somasi kepada Pt. Crestec Indonesia dengan melampirkan surat perjanjian perpanjangan kontrak kedua dari 2018 sampai 2020 yang ditandatangani oleh Manajer Umum dan HRD Pt. Crestec Indonesia, Dadang Kadar Sudrajat.

Edi juga mengatakan, tidak ada job desk Dadang Kadar Sudrajat menandatangani surat perpanjangan kontrak tersebut.

Dia juga mengaku tidak mengetahui adanya surat perpanjangan kontrak Cv.Jagat Raya Trans. Karena menurut Edi, tanggal penandatangan perjanjian sebelum tanggal 2 Juni 2017. Padahal, seharusnya sudah berakhir pada Maret 2018.

Dikatakan Edi dalam kesaksianya, seharusnya penandatangan perjanjian kontrak harus diketahui (ditandatangani) oleh Direksi bukan diwakili manajer umum.

Perlu diketahui, saat itu Direksi yang lama (Hiroyuki Mori) berakhir masa kerja sejak September 2016 dan digantikan Direksi yang baru (Naoki Dohaku). Saksi juga mengklaim telah mengecek dibuku registrasi terkait nomor registrasi yang tertera pada surat perjanjian perpanjangan kontrak yang menurutnya tidak sama. (RAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here